MengapaAmin…..?
Dalam berita tanggal 15 Februari 2008 – Kaltim Post diberitakan bahwa team Pilkada dari Partai Golkar Kaltim menentukan nama Achmad Amin ( sekarang Wali Kota Samarinda ) menjadi calon yang diunggulkan setelah Yusuf Sk, Soehartono Soetjipto dan Sofyan Hasdam. Berita ini cukup mengejutkan saya pribadi. Mengapa ….?
Yang pertama, yang saya ketahui bahwa sejak awal persiapan Balon – balon Gubernur Kaltim beliau sudah melamar partai-partai lain dan bukannya Golkar. Golkar memang memiliki calon tunggal yang diputuskan yaitu Bapak Syaukani HR. Dan mungkin karena inilah maka Amin mendaftar ke partai yang lain. Secara etika organisasi ( pandangan saya ), hal ini sudah menunjukkan bahwa Amin bukanlah kader yang loyal untuk Partai. Dan selain itu, hal ini menunjukkan bahwa pandangan politik beliau sudah tidak sepaham lagi dengan Golkar. Sebagai anggota suatu organisasi, saya pribadi mengatakan bahwa beliau tidak masuk Gokar dengan hati yang sebenarnya, mungkin karena warisan Politik Orde Baru sehingga beliau secara otomatis masuk di dalam jajaran partai tersebut karena beliau adalah seorang pegawai Negeri. Dengan hal ini, mungkin para petinggi di partai yang ada saat ini, banyak person-person yang masuk partai hanya karena untuk sesuatu kekuasaan saja dan bukannya pengabdian pada suatu idealisme partai atau tujuan partai. Dari kacamata ini, yang harus kita tarik adalah apakah pandangan politik Golkar dan partai yang pernah dilamar memiliki kesamaan yang banyak sehingga beliau merasa sah-sah saja melamar ke partai yang lain….?
Yang kedua, team Pilkada Golkar mungkin kebingungan mencari sosok selain Syaukani yang bisa membawa nama Golkar sukses memenangkan Pilkada di Kaltim. Syaukani HR, saat ini sedang terkena masalah hukum dan dari awal Golkar sudah pernah mengatakan bahwa ada atau tidak ada masalah hukum, Golkar tetap akan mencalonkan Syaukani sampai dengan saatnya pendaftaran calon Gubernur ke KPUD. Sampai saat ini upaya hukum akan ditempuh oleh team Syaukani agar beliau bisa ikut Pilkada dan bisa dicalonkan oleh Golkar sebagai Gubernur Kaltim. Pandangan saya, mungkin karena kasus hukum Syaukani belum jelas sampai dengan saat ini, dan mungkin karena melihat proses sosialisasi dari team Amin cukup terlihat gregetnya maka Golkar berani segera merangkul Amin yang juga ikut melamar dalam bursa calon dari partai Golkar untuk dijadikan kandidat yang dicalonkan dari partai ini. Saat saya melakukan perjalanan darat dari Samarinda menuju Tanjung ( Kalimantan Selatan ), spanduk-spanduk besar yang memasang gambar Amin cukup banyak hingga ujung selatan Kaltim ( Muara Koman ). Secara pribadi saya sangat mengagumi team kampanye pemenangan Amin. Secara promosi lebih diketahui masyarakat luas, walaupun bukan berarti hal ini jadi jaminan untuk kemenangan Amin. Bisa saja, masyarakat melihatnya tambah tidak antusias untuk mendukungnya karena tidak mengerti apa yang disampaikan oleh team Amin. Hal ini sama saja dengan iklan rokok yang mempromosikan tentang bahaya akibat merokok. Yang ada, masyarakat tetap saja merokok.
Yang ketiga, sebenarnya prestasi apa yang telah dicapai beliau dalam membangun kota Samarinda….? Kacamata masyarakat tentunya berbeda antara satu dengan lainnya. Ada yang membaca dari sisi tata kota yang tentunya jauh dibandingkan dengan Bontang, Berau, Tarakan apalagi dengan Balikpapan. Kebersihan kota, penanganan PKL, penanganan pengangguran, penanganan lalu lintas, penanganan sampah, penanganan banjir atau drainase, penanganan tindak kriminal termasuk narkoba, Penanganan bidang olahraga, penanganan kesehatan masyarakat, penanganan pendidikan dan lain-lainnya. Yang tidak kalah pentingnya adalah investasi di Samarinda sesuaikah dengan harapan masyarakat. Dengan kacamata yang berbeda-beda belum tentu Amin bisa mewakili keinginan masyarakat Kaltim yang sudah melek ( tidak buta aksara ) berita.
Industri perkayuan di Samarinda, dulunya cukup banyak sehingga banyak tenaga kerja yang terserap. Saat ini hanya tinggal beberapa saja yang masih operasi atau memiliki order dari Luar Negeri. Bukannya hal ini harus menjadi acuan kegagalan Amin membangun Samarinda, tetapi hal ini bisa menggambarkan bahwa Kaltim memerlukan sosok yang paham tentang apa yang menjadi SWOT Kalimantan Timur. SWOT adalah salah satu langkah manajerial untuk membuat activity plan kedepan bahkan sampai lima tahun kedepan . Stength ( kekuatan ) kita apa…? Weakness ( kelemahan ) kita apa…, Oportunity ( Peluang ) kita apa….? Dan Threat ( ancaman ) kita apa…..? Dari sinilah kita akan tahu calon-calon kita memang memiliki wawasan manajerial yang baik untuk membangun Kaltim lebih baik, lebih mandiri dan tidak tergantung pada pola pikir pusat yang tidak lebih tahu tentang SWOT kita.
Yang keempat, Golkar sebagai gudangnya tokoh-tokoh politik yang mumpuni ternyata tidak kreatif dalam membuat Golkar lebih punya nilai dibandingkan partai yang lain dalam menentukan calonnya. Kita bisa lihat cara-cara partai Republik dan Demokrat di Amerika saat ini yang mempromosikan calonnya ke daerah-daerah ( negara bagian ). Menarik sekali mereka mempromosikan calonnya dari yang eks orang besar maupun yang muda. Dari sini mereka mempunyai calon-calon yang benar-benar mewakili underbouwnya untuk diadu dalam pemilihan nantinya. Ternyata Golkar melakukan dengan aktifitas yang menurut saya tidak beda dengan partai-partai yang lain. Lalu, dasar pemilihan Golkar dalam menentukan Amin apa…? Hal ini bisa terlihat pada berita hari ini, dimana DPD II melakukan proses penolakan tentang mekanisme penentuan calon dari Golkar.
Tetapi, secara pribadi walaupun saya tidak terlalu menginginkan Kaltim memiliki pemimpin seperti Amin, saya harus tetap respect pada keputusan Golkar untuk memilih Amin sebagai calon Gubernur dari partai Golkar. Selamat berjuang Golkar dan selamat berjuang pak AMIN. Kalau anda terpilih nantinya, saya harus mendukung pilihan masyarakat ini dan akan mendoakan bapak jadi lebih baik dari apa yang saya ketahui saat ini dari kulitnya. Selamat pak……
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar